Tanah masih basah. Termasuk tanah yg digali itu, juga basah. Mungkin karena hujan yg selalu datang setiap malam. Lalu jenazah yg terbungkus kain kafan itu pun diletakkan ke dalam lubang galian itu. Tiga orang pria, salah satunya adalah pakdhe, mengambil sdikit demi sdikit tanah dengan cangkulnya untuk menimbun galian itu.
Lambat laun terisi. Akhirnya terisi penuh dan terbentuk gundukan, itulah kuburan. Kuburan bulekku. Tak menyangka secepat ini dia pergi. Aku belum sempat melihat wajahnya saat dia terbaring. Karena aku memang takut memandang orang meninggal. Tapi ada sedikit penyesalan...
Hmmm, semoga amalan beliau dapat di terima oleh Allah.. berikan dia tempat yg indah ya Tuhan..
Sudah selesai berdoa. Lalu kemudian kami pulang ke rumah.




